Senyum Terakhir Hj. Mulyani, Kenangan Hangat dan Doa Setia Sahabat ILUNI 34'85
PANGKALAN JATI - Pagi di hari Jumat, 2 Oktober 2026, bergulir hangat seperti biasa. Namun bagi keluarga besar Alumni SMA 34 Jakarta Angkatan 1985 (ILUNI 34’85), kabar yang berembus tepat pukul 07.48 WIB seketika menghentikan detak rutinitas. Sebuah pesan duka mengalun pelan tapi merasuk dalam di WhatsApp Grup Besar.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah berpulang ke Rahmatullah kawan kita Mulyani Binti Sukiman pada hari Jumat 2 Oktober 2026 pukul 07.48 di RS Siloam Semanggi..." tulis Adhi Witjaksono.
Kabar dari Adhi itu menjadi gerbang pelepasan bagi sosok yang selama ini begitu dicintai. Hj. Mulyani—sahabat yang dikenal ramah, hangat, dan mudah merangkul siapa saja—telah menyelesaikan perjalanan dunianya. Ia menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta Selatan, meninggalkan sebuah ukiran senyum tulus di wajahnya. Bahkan di tengah masa-masa kritis, lisan dan hatinya di bawah bimbingan suami dan anak-anaknya, tak berhenti memanggil nama Allah SWT serta melantunkan sholawat. Sebuah penutup hidup yang indah dan menenangkan.
Dalam hitungan detik, ruang percakapan alumni dipenuhi gelombang belasungkawa. Sigit Himawan, Rita Juwita, hingga Ketua ILUNI 34’85 Mas Irza Ifdial menyambut kabar itu dengan doa-doa terbaik.
"Semoga almarhumah Mulyani wafat dalam husnul khatimah, diampuni segala khilafnya dan diterima semua amal ibadahnya," tulis Mas Irza. Hanya dalam rentang dua menit, simpati mendalam juga mengalir dari jajaran Dewan Penasehat seperti Arie Setiyono dan Martin Marpaung*, diikuti oleh Wakil Ketua ILUNI Iwan Basket, Sekum Bu Dini serta puluhan sahabat lainnya yang merasa kehilangan.
Memang, kabar sakitnya Hj. Mulyani bukan cerita baru di lingkungan 34’85. Semenjak ia terbaring, jalinan simpati tak pernah putus. Mas Irza Ifdial bersama beberapa kawan dekat sempat menjenguknya langsung di rumah sakit. Sebagian lagi menyempatkan hadir ke kediamannya, meski kondisi Mulyani saat itu tak lagi sebugar dulu. Namun senyum ramah yang menjadi ciri khasnya selalu membekas di ingatan siapa pun yang bertandang.
Mengantar Langkah Terakhir
Usai dishalatkan di Masjid Imam Bonjol Kompleks AL dengan khusyuk, rombongan pengantar jenazah bergerak menuju tempat pemakaman yang berjarak sekitar satu kilometer.
Siang itu, sekitar pukul 13.00 WIB, suasana haru begitu terasa. Dua sahabat alumni, Erdian Kushananto dan Irfan, menyambut keranda jenazah begitu turun dari ambulans. Dengan wajah haru dan duka yang sulit disembunyikan, Erdian—yang sudah mengenal almarhumah sejak masa seragam putih-biru di SMP 85—menggotong keranda itu dengan penuh penghormatan hingga ke liang lahat.
Di sekeliling pusara, barisan sahabat melingkar rapat. Mas Irza Ifdial, Iwan Basket, Iyank, dan rekan-rekan ILUNI lainnya berdiri dengan kepala tertunduk. Suara gema sholawat dan lantunan Ummul Quran, Surah Al-Fatihah, mengalun lembut membelah keheningan, mengiringi tanah yang pelahan menutupi peraduan terakhir Mulyani.
Di sisi lain, para sahabat wanita—tampak Diah S. Hariastuti, Tine, Walle, Mia, Dini, Sulis, Anda, Lin, Aning, dan beberapa kawan lainnya—tak mampu menahan genangan air mata. Mereka berduka mendalam kehilangan seorang teman yang terbilang tenang dan agak pendiam, namun memiliki kebaikan hati yang begitu nyaring terasa.
Jejak Derma dan Kehangatan yang Membekas
Bagi mereka yang pernah bertukar cerita dan tumbuh bersama, Hj. Mulyani bukan sekadar kawan seangkatan. Diah dan Amoy, yang pernah duduk di kelas yang sama di Kelas 1-10, mengenalnya sebagai sosok yang sangat dermawan dan tak pernah hitung-hitungan.
Setiap kali ada kegiatan kelas atau kumpul bersama, Mulyani selalu pasang badan untuk urusan konsumsi. Makanan yang disiapkannya tak pernah tanggung-tanggung—selalu berlimpah dan disajikan dengan penuh kesungguhan.
"Tak hanya soal kuantitasnya yang berlebih, rasa masakannya pun benar-benar enak. Kayaknya, apapun yang dimasak Almarhumah Mulyani selalu enak di lidah, dan bikin kangen," kenang Diah tulus. Kehandalan dan ketulusan Mulyani itu juga tercermin saat ia terlibat dalam Program UMKM alumni, di mana puluhan porsi hidangan lezat disiapkannya untuk dibagikan kepada warga di kawasan Pangkalan Jati dan Gandul.
Kini, tugas dunianya telah usai. Usai prosesi pemakaman selesai, sebagian sahabat melangkah pulang membawa duka tersisa. Sebagian lainnya memilih duduk sejenak, menikmati makan siang bersama sambil melempar nostalgia—menenun kembali kenangan indah dan menceritakan kebaikan-kebaikan Hj. Mulyani binti Soekiman yang takkan padam oleh waktu.
Selamat jalan, Hj. Mulyani. Kami bersaksi engkau adalah jiwa yang sangat baik. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni khilafmu, dan menempatkanmu di tempat paling mulia di sisi-Nya. Aamiin ya Rabbal 'Aalamiin.(Ginandjar)
Related Articles