Merajut Silaturahmi dalam Kesejukan Iman: Pengajian Tiga Bulanan ILUNI 34'85 Bersama Ustadz Fadlan Garamatan
Suasana khusyuk dan penuh kehangatan Masjid An Nur di bilangan Jalan Raya Gandul, Cinere, Depok. Untuk pertama kalinya, masjid yang sejuk dan nyaman ini menjadi saksi bertemunya kembali rindu dan doa dalam acara Pengajian Tiga Bulanan serta Silaturahmi ILUNI 34'85, Sabtu 27 Juni 2026, bertepatan 12 Muharram 1448 H.
Sekitar 70 kelopak wajah para alumni hadir, siap meneguk telaga ilmu dari sang penceramah, Ustadz Fadlan Garamatan.
Meski acara baru digelar menggema pukul 09.00 WIB, sebuah teladan indah yang dibawakan oleh Ustadz Fadlan.
Menjunjung komitmen tinggi, sang ustadz bersama dua asistennya telah menapakkan kaki di pelataran masjid sejak pukul 08.15 WIB. Kehadiran beliau disambut hangat dengan senyuman ramah oleh Ustadz Acep Rahman Hakim dan Ketua ILUNI 34'85, Mas Irza Ifdial. Sambil menanti jamaah berkumpul, mereka melangkah selasar Perpustakaan An Nur untuk melepas penat sejenak.
Di ruang perpustakaan yang tenang itu, mengalirlah kisah-kisah penggugah jiwa. Da'i asal Fakfak yang dikenal murah senyum ini membagikan rekam jejak perjalanannya sebagai guru ngaji di bumi Papua Barat—tempat di mana matahari terbit pertama kali mengantarkan cahayanya untuk Indonesia. Beliau adalah ulama besar yang mendedikasikan hidupnya demi kemajuan tanah kelahirannya. Namun tak hanya di sana, semangat dakwahnya yang universal kini telah mendunia, mengetuk dan menggerakkan-jiwa filantropis hingga ke benua Afrika.
Dalam perbincangan hangat bersama Mas Irza dan Kang Ustadz Acep, beliau menyelipkan kabar yang menggetarkan hati; baru-baru ini, atas hidayah Allah, beliau membimbing empat orang pendeta di Papua untuk memeluk Islam. Jika merunut kembali garis waktu dakwahnya, sudah ribuan masyarakat Papua yang memilih bersyahadat secara sukarela di bawah bimbingannya.
Ustadz Fadlan memang lahir dari rahim keluarga muslim Papua yang bersahaja pada tanggal 17 Mei 1969, dengan nama lengkap Muhammad Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan. Beliau mengalirkan darah suci dari sang ayah, Machmud Ibnu Abubakar Ibnu Husein Ibnu Suar Al-Garamatan, dan sang ibu, Siti Rukiah binti Ismail Ibnu Muhammad Iribaram.
Waktu semakin menitik di angka 09.00 WIB. Ibu Hj. Eni Isnaeni selaku pembawa acara dengan takzim mempersilakan Ustadz Fadlan mengambil tempat di hadapan jamaah. Di saat yang sama, langkah kaki anggota ILUNI masih terus berdatangan meadati ruang utama, didominasi oleh barisan jemaah wanita yang hadir dari berbagai sudut Jabodetabek. Bahkan, suasana terasa kian syahdu dengan kehadiran Mbak Ratna, seorang anggota alumni yang telah 40 tahun bermukim di Amerika Serikat, yang menyempatkan hadir di tengah-tengah mereka begitu tiba di tanah air. Hadir pula pengurus inti yang lain Sekum Bu Dini, Wk. Ketua I Bang M. Ikhwanul, dan Bendahara Umum Bu Renthy Silalahi.
Mengangkat tema "Sahabat Terbaik Menurut Syariat Islam", Ustadz Fadlan membuka ceramahnya dengan apresiasi yang mendalam untuk ILUNI 34'85. Beliau takjub melihat kekompakan yang tetap terjaga erat, guyub, dan penuh kasih, meski usia persahabatan telah melampaui empat dekade.
“Memelihara persahabatan dalam jangka waktu yang panjang dengan tingkat kebersamaan seperti ini tidak mudah. Ini adalah aset berharga dan modal yang luar biasa bagi ILUNI 34'85 untuk meniti jalan ibadah kepada Allah secara bersama-sama,” tutur Ustadz Fadlan lembut sambil memberikan nasehat.
Sebagai langkah awal yang sederhana namun konsisten, beliau mengajak seluruh alumni untuk merutinkan tadarus Al-Qur'an—minimal satu orang satu ayat setiap harinya. Dengan banyaknya alumni yang ada, beliau optimistis pada pengajian tiga bulan mendatang, sebuah khataman Al-Qur'an bersama sudah bisa dipersembahkan sebagai hadiah terindah bagi persahabatan mereka.
"Hari ini teknologi begitu canggih. Gawai (HP) di tangan kita semua bisa menjadi jembatan untuk mewujudkan ibadah bersama ini. Di samping mendekatkan diri kepada Allah, cara ini juga akan menjaga tali silaturahmi agar tidak pernah putus," tambah Ustadz Fadlan, memberikan kiat mulia.
Ketika jarum jam menunjuk pukul 10.30 WIB, rangkaian acara pun purna. Setelah sesi foto bersama untuk mengabadikan momen penuh berkah tersebut, acara dilanjutkan dengan ramah tamah. Di ruangan terpisah, suasana santai dan kekeluargaan kian terasa saat Ustadz Fadlan beserta asistennya, ditemani Kang Acep, menikmati siang hidangan berupa sate lontong, bakso Malang yang hangat, serta segarnya buah-buahan, dan makanan khas Betawi Selendang Mayang yang mampu menghilangkan dahaga.
Sebuah hari yang tidak hanya mengenyangkan raga, tetapi juga mengenyangkan ruhani dengan indahnya ukhuwah. yang bermula di bangku sekolah 40 tahun lalu Persahabatan itu, kini kian matang dan membumi di bawah naungan rida-Nya.(Ginandjar)
Related Articles