Qiroati ILUNI 34'85 : Meniti Kesempurnaan Bacaan Al-Qur'an, Ayat demi Ayat
Di sudut ruang perpustakaan Masjid An Nur yang dingin dan bersih, setiap hari Selasa pukul 08.30 WIB, sepuluh hati berkumpul dalam satu tujuan yang sama : belajar membaca Kalamullah dengan sebaik-baiknya. Mereka adalah keluarga besar Qiroati ILUNI 34'85, yang dengan penuh semangat duduk melingkar di hadapan guru tercinta, Ustadz Kholil.
Tak ada yang merasa paling hebat, tak ada pula yang malu ketika bacaannya diperbaiki. Justru di situlah letak keindahan majelis ini. Ayat demi ayat dilantunkan dengan khusyuk, disimak dengan seksama, lalu diperbaiki dengan penuh kasih sayang.
Di sela-sela keseriusan, suasana hangat selalu hadir. Canda dan saling ledek menjadi bumbu penyemangat, bukan untuk merendahkan, melainkan agar setiap orang semakin termotivasi memperbaiki bacaannya.
Hj. Eka hampir mencapai bacaan yang sempurna. Ustadz Acep Rahman Hakim memiliki suara yang bulat, merdu, dan nyaman didengar, meski sesekali tetap mendapat koreksi. Kang Pipik dan Ustadz Lebon dari Cisauk terkenal dengan gaya membaca bak pembalap Formula 1—terlalu cepat hingga sering diingatkan untuk lebih tenang. Euis Dasmayanie sudah cukup fasih, namun pantulan suaranya khas Jawa Barat masih menjadi perhatian sang guru. Ustadzah Ulung dan BuDhe Sulis terus berjuang tanpa lelah mengejar kesempurnaan makhraj dan tajwid. Lalu ada Basis yang tenang namun pelan membacanya. Sementara Ginandjar, atau akrab disapa Aa Gin, boleh berbangga dengan pelafalan huruf 'ain yang baik, namun seringkali ia masih suka "kelewat" huruf yang seharusnya terbaca, sehingga kerap menjadi bahan bulian yang empuk dari rekan-rekannya (emang enaaaak.....😆).
Dengan penuh ketegasan sekaligus kelembutan, Ustadz Kholil selalu mengingatkan, "Kalau saya perbaiki, jangan tersinggung ya. Semua saya lakukan demi kebaikan agar bacaannya sesuai tuntunan Al-Qur'an. Jadi nggak boleh baper."
Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa setiap koreksi adalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada murid-muridnya.
Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 11.38 WIB. Beberapa menit menjelang azan Zuhur, majelis pun ditutup. Sebagian jamaah memilih menunaikan salat Zuhur berjamaah di Masjid An Nur, sementara yang lain kembali ke rumah untuk menunaikannya di masjid terdekat.
Beginilah indahnya sebuah majelis ilmu. Bukan sekadar belajar membaca Al-Qur'an, tetapi juga belajar rendah hati, saling menyemangati, menerima nasihat, dan menjaga ukhuwah. Semoga setiap huruf yang dibaca, setiap koreksi yang diterima, dan setiap langkah yang diayunkan menuju majelis ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir serta mengantarkan seluruh keluarga besar Qiroati ILUNI 34'85 menuju keberkahan dunia dan akhirat.
"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." Semoga Allah SWT senantiasa menjaga langkah, lisan, dan hati kita dalam membersamai Al-Qur'an. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin. Ayo teman-teman, yang ingin bergabung, silahkan daftar, dan ditunggu.(Ginandjar)
Related Articles