Dapur Ikhlas di Pesantren Ustadz Taufik Resta : Kala Tangan Istri-istri Para Ustadz Merajut Berkah dan Harapan
Di balik rimbun dan tingginya alam Sukabumi, ada sebuah harmoni yang tercipta antara pengabdian dan kemanusiaan. Di sebuah pesantren kecil yang menjadi rumah bagi anak-anak yatim piantu dan dhuafa, Ustadz Taufik Resta sedang menuliskan sebuah kisah tentang bagaimana kebaikan tidak pernah datang sendirian. Ia datang berlipat ganda, mengalir seperti air, dan menyentuh setiap relung hati yang terlibat di dalamnya.
Sambil Menyelam, Menebar Keberkahan
Pepatah "sambil menyelam minum air" terasa begitu hidup di pesantren ini. Ketika amanah dari Bidang Sosial dan Kerohanian (Soshan) ILUNI 34'85 datang untuk menjalankan program Jumat Berkah, Ustadz Taufik tidak hanya melihatnya sebagai tugas distribusi makanan. Baginya, ini adalah jalan pembuka pintu rezeki bagi sosok-sosok di balik layar: istri para Ustadz di pesantrennga.
Ibu-ibu yang biasanya tangkas menyiapkan hidangan bagi para santri, kini menyalurkan kasih sayang mereka ke dalam kotak-kotak nasi untuk masyarakat sekitar.
"Program Jumat Berkah telah membantu kami, tidak hanya memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan, tetapi juga memberikan kesempatan buat istri para Ustadz di pesantren untuk menambah pendapatan mereka," tutur Ustadz Taufik melalui sambungan telepon kepada Ginandjar dari Jurnal ILUNI 34'85 dengan nada penuh syukur.
Meskipun secara formal pesantren ini tidak memiliki unit usaha katering, kecekatan jemari istri-istri para pengajar ini tidak perlu diragukan. Mereka memasak dengan bumbu paling rahasia: keikhlasan. Tak heran jika Oma Icha dari tim Soshan memberikan pujian setinggi langit saat mencicipi langsung hidangan mereka. Rasa yang konsisten dan variatif menjadi bukti bahwa apa yang dibuat dengan hati, akan sampai ke hati.
Napas Kehidupan bagi Para Penghafal Al-Qur'an
Di rumah sederhana ini, ada 23 nyawa kecil—17 santri dan 6 santriwati—yang menggantungkan impian mereka. Sebagian besar dari mereka adalah anak yatim piatu berusia 5 hingga 15 tahun. Untuk menghidupi mereka, setidaknya 1,2 kuintal beras harus tersedia setiap bulan.
Namun, Tuhan tidak pernah tidur. Melalui tangan-tangan dermawan, kebutuhan itu selalu tercukupi. Dukungan pun mengalir dari berbagai penjuru :
• Donatur Tetap: Yang memastikan stok beras tidak pernah kosong.
• Bapak Muhammad Ali (KSAL RI): Melalui kedermawanannya, kini pesantren mengelola 200 ekor ayam petelur. Sejak akhir 2025, ayam-ayam ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi santri, tapi juga menjadi sumber ekonomi baru.
• Bapak Irza Ifdial (Ketua ILUNI 34'85): Sosok yang tak lelah menjembatani komunikasi dan memberikan perhatian besar bagi perkembangan pesantren.
Mimpi di Atas Lahan Dua Hektar
Ustadz Taufik tidak ingin berhenti di sini. Di atas lahan seluas 2 hektar, ia menyimpan mimpi besar. Ia melihat masa depan di mana bangunan pesantren formal berdiri kokoh, menampung lebih banyak anak yatim untuk menjadi Hafidz Qur'an.
"Rezeki adalah Allah yang mengatur," ujarnya tenang. Keyakinan itulah yang membuatnya terus melangkah meski tantangan membentang. Beliau ingin setiap anak yang keluar dari sana tidak hanya membawa ijazah, tapi membawa cahaya Al-Qur'an di dalam dada mereka.
Penutup
Kisah dari Sukabumi ini mengingatkan kita bahwa sebuah gerakan kecil seperti paket makanan di hari Jumat, jika dikelola dengan ketulusan, mampu menghidupkan banyak sendi kehidupan. Ia membantu kaum dhuafa, memberdayakan perempuan (istri-istri para Ustadz), dan menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anak yatim.
Semoga setiap butir nasi yang dimakan dan setiap ayat yang dihafal oleh para santri menjadi aliran pahala yang tidak terputus bagi Ustadz Taufik, para donatur, dan keluarga besar ILUNI 34'85.(Ginandjar)
Related Articles